Menggalang Ukhuwah Islamiyah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita. Aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah, kecuali Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. Semoga selawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah saw, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jalan hidupnya.

Kaum muslimin rahimakumullah!
Marilah kita berlomba-lomba menuju bertakwa kepada Allah SWT. Kita perbaiki dan tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, karena keimanan dan ketakwaan adalah senjata utama bagi kita sekalian, kaum muslimin, untuk mencapai kemenagan di sisi Allah SWT.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (Al-Hujurat: 10)

Agama Islam mengajarkan kepada umat manusia agar berpandangan positif dan optimis terhadap kehidupan dunia. Meskipun secara lahiriah, hidup ini kadang kala dipenuhi oleh perselisihan, pertentangan, dan hal-hal keras dan beringas, yang seakan-akan mustahil untuk diwujudkan persatuan, kerukunan, dan persaudaraan sesama manusia, tetapi kita tidak boleh pesimis menghadapi hidup ini.

Sesungguhnya manusia menurut fitrahnya adalah umat yang satu padu, suka bekerja sama, bahu membahu, dan saling membantu. Tapi pada perkembangannya, karena banyaknya perbedaan kepentingan begitu mudah terjadi ikhtilaf, perselisihan, dan pertengkaran antara sesama mereka. Akan tetapi, apabila manusia sudah merasa memiliki sesuatu cita-cita yang sama, idealisme yang sama, niscaya mereka dapat menjadi ummat yang bersatu, yang hidup dalam kedamaian, kebersamaan, dan persaudaraan, penuh suasana tolong-menolong dan saling butuh-membutuhkan.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan dibinanya kekuatan kaum muslimin dengan memupuk persatuan, supaya tidak mudah dipecah-belah, dan mengatur hubungan satu sama lain melalui tolong menolong dan saling bantu membantu. Sebab, umat Islam akan menjadi kuat apabila mereka dapat menggalang satu kesatuan yang kokoh, dan mau menyadari kelemahan dan keterbatasan yang ada pada kelompok masing-masing.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan berpeganglah kamu sekalian kepada agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan hati kamu, lalu jadilah kamu orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran: 103)

Kaum muslimin rahimakumullah.
Kita bersyukur kepada Allah, bahwa adanya bermacam-macam organisasi keagamaan dalam kehidupan umat Islam di negara kita, sampai sekarang tidak pernah menjadi faktor yang sampai mengakibatkan perpecahan, kecuali adanya keberadaan kelompok-kelompok organisasi sempalan yang meresahakan masyarakat. Mereka kelompok yang mengganggu persatuan dan kedamaian kalangan Ahli Sunah wal Jamaah. Alhamdulillah, jamaah ahli sunah, meskipun berbeda-beda organisasinya, selalu bersatu untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dianggap penting untuk dipecahkan bersama, di antaranya seperti persoalan munculnya berbagai macam aliran sempalan yang menyesatkan.

Guna menjaga kondisi yang baik ini perlu selalu diciptakan situasi di mana masing-masing organisasi dapat berpegang teguh kepada ajaran yang satu dan bersumber dari sumber yang sama, yaitu Alquran dan Sunah, sehingga masing-masing orgaisasi dapat menikmati keleluasaan dalam mengamalkan syariat Islam.
Sesama muslim yang seiman dan seakidah janganlah tergoda oleh nafsu untuk meniup-niupkan api pertentangan di kalangan jamaah, dengan membangkitkan kembali suasana pertentangan politik atau pertikaian karena khilafiyah furuiyah, yang dahulu sering terjadi seperti antara pengikut organisasi NU dan Muhamadiyah yang sama-sama jamaah Ahli Sunah. Jamaah Muhamadiyah banyak yang mengolok-olok jamaah NU, sehingga terjadilah perang mulut antara NU dan Muhamadiyah, dari tingkat akar rumput hingga kaum elit politik di tingkat atas.

Sikap saling mengolok antara sesama jamaah yang seiman dan seakidah akan berakibat lebih jauh yaitu terjadinya fanatisme kelompok atau golongan. Akibat ini menjadi parah lagi ketika masing-masing merasa dirinyalah yang benar sedangkan orang atau organisasi lainnya dianggap kafir.

Maka sesungguhnya Allah telah menyindir kepada orang-orang yang suka mengolok-olok (mengafirkan, menajiskan dll.) kaum atau kelompok lain bahwa mereka itu belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.” (Al-Hujurat: 11)

Kaum muslimin rahimakumullah.
Islam sebagai agama yang pemeluknya mayoritas di tanah air ini, sangat diharapkan menjadi sumber integritas kepribadian ummatnya yang mapu memancarkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan toleransi. Akan tetapi bukan berarti ummat Islam akan selalu toleran terhadap semua keadaan. Islam mengajarkan kepada ummatnya hanya toleran pada hal-hal yang patut untuk toleran, tetapi hal-hal yang tidak patut untuk toleran, maka Islam keras terhadapnya.

Allah telah memuliakan kita semua dengan keagungan agama Islam, sehingga kita menjadi ummat yang bersatu dalam satu persaudaraan dan satu ikatan ukhuwah Islamiyah yang besar. Oleh karena itu, manakala timbul gejala-gejala yang akn membawa kepada perpecahan umat, maka hendaklah kita sama-sama mengambil langkah untuk mencegah agar tidak terjadi perpecahan yang dapat berakibat buruk.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih, sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (Ali Imran: 105)

Terutama para pemimpin umat Islam, mereka harus saling menjaga kepentingan bersama, saling berpartisipasi dan saling terikat satu dengan lainnya. Kita melihat betapa indahnya ketika salah satu pemimpin suatu organisasi Islam di tahan oleh pihak yang berwajib karena masalah politik, kemudian para pemimpin organisasi keagamaan Islam lainnya berbondong-bondong datang menjenguknya.

Suasana akrab dan persaudaraan pun terjalin dengan baik. Begitulah seharusnya para pemimpin memberikan contoh suri tauladan kepada ummatnya, yang meskipun berbeda-beda organisasi, akan tetapi sesungguhnya dalah wadah yang satu yaitu jamaah Ahli Sunah wal Jamaah.

Rasulullah pun telah bersabda, yang artinya:
“Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya itu laksana sebuah bangunan, sebagiannya memperkokoh bagian yang lain.” (HR Muslim)

Di dalam Islam, seseorang belum sampai kepada terajad iman tinggi sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Sebagaimana hal ini diterangkan di dalam hadits:
“Tidak dikatakan beriman salah seorang di antara kamu, kecuali bila ia mencintai saudaranya (seagama), sama sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kaum muslimin rahimakumullah.
Mengakhiri uraian ini, marilah kita senantiasa menyadari akan pentingnya persatuan dan persaudaraan serta berupaya untuk mencapai keadaan itu. Dengan persatuan akan terwujud suatu kekuatan; dengan kekuatan dapat mencapai suatu tujuan, yaitu kemenangan. Pada akhirnya, umat Islam menjadi umat yang benar-benar rahmatan lil alamin.

Al-IslamPusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s