Bila Fanatisme Buta Merajalela

oleh : Abul Miqdad Al-Madany

Di penghujung abad hijriah yang lalu, di kota Syam terjadi sebuah peristiwa yang cukup “unik”. Beberapa pemuka madzhab Syafi’I mendatangi sang hakim yang ada di negri tersebut. Apa gerangan yang mereka inginkan ? Mereka mengajukan sebuah tuntutan kepada sang hakim agar sang hakim mengeluarkan keputusan untuk membagi setiap mesjid yang ada di negri itu menjadi dua.

Setengahnya untuk mereka para pengikut madzhab Syafi’I dan setengahnya lagi untuk para pengikut madzhab hanafy. Mengapa ? Usut punya usut ternyata penyebabnya adalah karena : “Para pemuka madznab hanafy itu berbeda pendapat tentang hukum pernikahan pria bermadzhab hanafy dengan wanita bermadzhab syafi’I, sebagian mereka menganggap pernikahan itu tidak sah dengan alasan wanita bermadzhab syafi’I itu diragukan keimanannya, sementara sebagian yang lain membolehkannya dengan mengqiyaskannya pada wanita dzimmiyyah (ahlu dzimmah)”.

Jadi ternyata para pemuka madzhab syafi’I itu sangat tersinggung dengan apa yang dibahas oleh para pemuka madzhab hanafy yang sampai pada tingkat meragukan keimanan mereka sebagai seorang muslim bahkan manyamakan mereka sama dengan kafir dzimmy. Apa yang kita lihat dari kisah ini hanyalah satu contoh di antara begitu banyak contoh yang menunjukkan bahaya yang lahir bila fanatisme buta merajalela di tengah-tengah kita.

Ketika yang menjadi patokan dan ukuran adalah ketokohan seseorang, dan tidak lagi pada apakah ucapan atau pendapatnya sejalan dengan al-haq –dan yang kita maksudkan dengan al-haq tiada lain dan tiada bukan selain daripada Al-Qur’an dan As-sunnah yang dipahami secara benar-. Bila fanatisme buta telah mewabah maka yang lahir pastilah pengkultusan tanpa batas.

Dan bukankah sejarah telah mencatat bahwa pengkultusan individu adalah sebab utama terpecahnya dan hancurnya ummat ini. Yang lebih parah lagi adalah bahwa kultus individu telah menjatuhkan kaum muslimin ke dalam jurang kesyirikan. Bagaimana tidak ? Akibat terlalu mengkultuskan individu tertentu, dalam diri mereka kemudian lahir kayakinan yang sesat : “sang tokoh” mengetahui hal-hal yang ‘ghaib’lah, dikawal malaikatlah –kalau yang dimaksud malaikat penacatat amal sih tak masalah- , dan lain-lain.

Bukankah yang menyebabkan kaum kafir quraisy dahulu menolak mengikuti Rasulullah adalah karena mereka terlalu fanatik dengan ajaran nenek moyangnya. Kesesatan yang samapun bisa terjadi pada diri kita bila kita tidak mau membebaskan diri dari belenggu “fanatisme buta “ dan “pengkultusan individu” ini. Dan apa yang kita saksikan pada hari-hari belakangan ini di tanah air kita hanyalah satu contoh lagi yang menunjukkan betapa mengerikannya dampak negatif penyakit yang satu ini.

Bukan hanya bangunan yang hancur namun sebuah bangsa bisa hancur berkeping-keping bila masih saja rela dengan penyakit ini. Dalam Islam kita diajari untuk tidak taklid buta dan mengkultuskan individu. Seperti ucapan Imam Malik –Rahimahullah- : “Setiap perkataan bisa saja ditolak atau diterima kecuali perkataan penghuni kubur ini” –kata beliau seraya menunjuk makam Rasulullah-. Jadi bagi kita kaum muslimin, perkataan siapapun –sekali lagi : siapapun juga !- bisa diterima ataupun ditolak tanpa pandang bulu –walaupun seorang bernenekmoyangkan para ulama- kecuali Firman Allah dan sabda RasulNya yang mulia.

Maka ukuran penerimaan dan penolakan suatu pendapat sepenuhnya berpulang pada : apakah pendapat itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah –yang dipahami secara benar sebagaimana dipahami oleh As-Salaf Ash-Shaleh-.

Maka tepatlah apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama bahwa : “Kebenaran itu tidaklah diukur berdasarkan (pendapat) orang namun sesorang itu akan dikenal dengan kebenaran yang ia perjuangkan”. Akhirnya, bagi kita –para pembaca yang budiman- kebenaranlah yang berhak untuk diikuti walaupun ia bertentangan dengan keinginan diri atau terpaksa menjatuhkan orang yang kita cintai dan hormati.

Wallahul Muwaffiq !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s