Lima Penyakit Masyarakat

Lima Penyakit Masyarakat

Dalam suatu hadist dari Abdullah bin Umar ra berkata, “Rasulullah saw menghadap ke arah kami seraya bersabda, ‘Wahai kaum muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya: tidaklah menyebarkan perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka; tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan, dan jahatnya penguasa; tidaklah suatau kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak dturunkan hujan; tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka , mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka. Dan, selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menerapkan hukum Allah dan memilih-milih apa yang Allah turunkan di dalam kitab-Nya, niscaya Allah akan menjadikan kekerasan (keributan) di antara mereka’.” (HR. Ibnu Maajah dan Hakim).

Kita yang hidup pada zaman sekarang ini telah menemui apa-apa yang ditakutkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya tentang lima perkara yang ada dalam hadis di atas. Nabi saw telah memberi rumusan kepada kita dengan jelas dan gamblang lima penyakit masyarakat yang dapat membawa kehancuran. Lima penyakit yang akan membawa azab, kerusakan dan kemurkaan Allah terhadap pelakunya, juga manusia yang hidup di sekitarnya.

Maka, dalam kesempatan yang singkat ini, marilah kita kaji satu persatu apa rumusan itu, sehingga kita dapat mengetahuinya dan menghindar, jangan sampai terjadi pada diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, atau dalam negara kita ini. Pertama, Perzinaan yang Tersebar dan Terang-terangan Kita tidak dapat menutup mata dari bentuk penyakit ini. Perzinaan dalam bentuk pelacuran, baik yang dilokalisasi ataupun yang ilegal, sudah merupakan kewajaran yang tidak wajar. Bahkan, pemerintah pun terkesan merasa diuntungkan dengan adanya bisnis esek-esek ini, yaitu dengan adanya pemasukan pajak. Padahal, akibat dari kegiatan atau perbuatan keji ini adalah sangat besar bagi masyarakat.

belum lagi selesai penanganannya, akibat yang ditimbulkannya sudah sekian jauh menjalar dan menular ke pelosok-pelosok daerah dan tempat-tempat yang subur untuk praktek pelacuran ini. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa perzinaan ini telah menimpa anak-anak di bawah umur, anak-anak kaum muslimin yang miskin dan jahil, anak-anak yang seharusnya duduk manis di bangku-bangku sekolah, anak-anak yang seharusnya tidak terbebani mencari nafkah. Berapa banyak surat kabar, TV dan media lainnya memberitakan kasus orang tua menjual anaknya menjadi pelacur untuk untuk menopang hidupnya. Anak-anak sebagai generasi penerus dan tulang punggung masa depan rusak dan terjerumus dalam lembah perzinaan yang akan menjadi penyesalan seumur hidup baginya.

Di antara akibat yang telah nyata dan jelas adalah menyebarnya virus AIDS ke seluruh dunia. Maka, tungggulah apa yang terjadi jika kita hanya berpangku tangan dengan keadaan ini, sebab Allah menyatakan dalam firman-Nya yang bermakna, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25) Benarlah apa yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah menyebar perbuatan keji (zina) pada suatu kaum hingga mereka berterang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa wabah-wabah penyakit dan kelaparan yang belum menimpa orang-orang sebelum mereka.” Kedua, Penipuan terhadap Timbangan Karena keimanan yang lemah dan tidak percaya adanya jaminan rezeki dari Allah, membuat para pedagang dan usahawan berbuat curang, yaitu mengurangi timbangan. Perbuatan curang dalam hal ini kian membudaya.

Banyak penjual yang menipu melalui timbangan dan takaran. Tidak ahanya penjual, pembeli pun ikut mencari celah untuk tidak dirugikan, bahkan kadang kala dengan bentuk penipuan lain terhadap pedagang. Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (Al-An’aam:152) Kecurangan dan penipuan dalam jual beli termasuk hal yang diharamkan Allah, dan merupakan suatu penyakit masyarakat yang membawa akibat yang buruk bagi masyarakat.

Jika hal ini terus berlarut-larut di kalangan masyarakat atau di suatu negeri, maka tunggulah ancaman Allah sebagaimana yang dinyatakan Nabi saw, “Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik, sulit mendapat makanan dan jahatnya penguasa.” Kalau kita lihat dan rasakan keadaan kita sekarang, maka akan kita sadari bahwa kita dalam kondisi ini, entah sampai kapan penyakit dan akibat dari keadaan ini akan berlalu. Ketiga, Tidak Mau Menunaikan Zakat Ketimpangan sosial tidak akan selesai penanganannya dengan teori ekonomi apa pun dari manusia. Kita sudah lihat hasil dari sosialisme, leberalisme, dll. Allah telah membekali manusia dengan suatu bentuk solusi yang ampuh dan telah teruji pada zaman-zaman kejayaan khilafah Islamiyah. Zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, orang -orang fakir miskin terangkat nasibnya sampai mereka menolak harta dari baitul mal. Pada saat ini jumlah orang kaya tidak sedikit, bahkan di antara mereka ada yang mempunyai gunung, pulau, dll.

Mengapa fakir miskin semakin banyak dan tak terkendalikan? Karena, orang-orang yang mampu dan berhak membayar zakat semakin sedikit dan rapuh kesadarannya. Maka, tunggulah akibatnya yang dijanjikan Allah melalui lisan Nabi-Nya, “Tidaklah suatu kaum yang enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang niscaya tidak akan diturunkan hujan.” Kalau sampai saat ini masih ada hujan, bahkan sampai banjir, maka kita jangan merasa bahwa masih banyak orang-orang kaya kita yang membayar zakat, tetapi masih banyak hewan-hewan di sekitar kita yang Allah masih kasihi dengan menurunkan hujan kepada mereka.

Sebab, jika kita menyatakan banyaknya orang kaya yang membayar zakat, maka tandanya adalah hujan dan tidak adanya ketimpangan sosial. Keempat, Melanggar Janji Allah dan Rasul-Nya “Tidaklah suatu kaum mengingkari janji, melainkan Allah akan menguasakan atas mereka musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, mereka mengambil harta yang ada di tangan mereka.” Fenomena ini ada di berbagai negara Islam di dunia. Banyak negara-negara yang mayoritas Islam, ketika berjuang melawan penjajah dengan pekik Allah Akbar, dan berikrar menegakkan kalimat Allah, tetapi apabila kemerdekaan itu telah dicapai justru yang mereka pakai adalah hukum manusia, atau mengambil aturan-aturan manusia dan mengingkari janji mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jadilah negara-negara tersebut tetap dalam kekuasaan musuh-musuh Islam, yang selalu memeras dan menggali hasil bumi dan kekayaan negara tersebut.

Kelima, Para Pemimpin Tidak Berhukum dengan Hukum Allah Penyakit yang kelima ini sangat kronis dan parah, kalau diibaratkan penyakit kanker sudah mencapai stadium akhir yang menjelang ajal, mengapa? Jawabannya, kita dapat lihat sendiri dari beberapa negara yang mayoritas Islam di dunia ini. Al-Jazair memakai hukum Prancis, Malaysia memakai hukum Inggris, Indonesia memakai hukum Belanda, dllnya.

Maka jangan heran, jika ancaman Allah mengenai mereka yang para pemimpinnya tidak mau berhukum dengan Alquran dan Sunnah, yaitu dengan adannya perpecahan di kalangan mereka, pertentangan di kalangan elit politik, dan suburnya kekerasan di antara mereka dalam mencari posisi penting masing-masing. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, yang notabene adalah mayoritas Muslim tetapi tidak menggunakan hukum yang berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, terdapat kejadian-kejadian besar tentang kekerasan dan keributan, baik dari kalangan masyarakat bawah maupun samapai elit politik. Jatuhnya presiden-presiden kita, sejak Presiden Soekarno hingga Presiden Gusdur, dengan tidak wajar merupakan bukti bahwa apa yang telah difirmankan oleh Allah memang benar, dan memang pasti benar.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullahu! Sudah menjadi kewajiban kita dalam menghadapi keadaan seerti sekarang ini bahwa kita harus tetap istiqamah, sabar, dan jangan berputus asa. Kita harus bangkit untuk berupaya memperbaiki keadan ini. Sebab, jika kita hanya berpangku tangan dan tidak mau mencegah dan memerintahkan yang ma’ruf, maka resiko bagi umat ini akan semakin berat. “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfaal: 25). Dalam tafsir Ibnu katsir dan Qurtubi, ayat ini dikaitkan dengan suatu hadis dari Aisyah ra yang maknannya, “Apabila telah tersebar luas kemaksiatan, maka Allah akan menurunkan kesusahan (balasan) pada penghuni negeri itu.

Berkata aku: ‘bukankah di antara mereka ada yang ta’at’? Nabi saw menjawab, ‘Mereka nanti akan dikumpulkan dalam naungan rahmat Allah (mereka yang taat)’.” Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami bersalah! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami! Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya! Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami! Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum yang kafir! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).

Aamin.

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s