The 10 Credos of Compassionate Marketing oleh Hermawan Kartajaya

THE 10 CREDOS OF COMPASSIONATE MARKETING
By Hermawan Kartajaya

“Can You Practice What You Preach, And Would You Turn The Other Cheek?”
– Where Is The Love, Black Eyed Peas –

***
Saya merasa terhormat ketika diundang untuk berceramah bersama dengan KH
Abdullah Gymnastiar. Bagi saya, Aa Gym adalah asset nasional. Dan kalau
orang di seluruh dunia tahu, sebetulnya Aa Gym sudah merupakan asset
dunia.

Karena itu ketika saya mendapat undangan untuk mengisi ceramah bersama
Aa Gym, saya langsung membentuk tim di MarkPlus&Co yang terdiri dari tim
tangguh dibidang marketing. Saya minta mereka mempelajari buku – buku Aa Gym, berkonsultasi dengan pakar bisnis Islam, dan mempelajari kitab suci untuk memperkaya konsep yang sedang saya kembangkan.

Inilah konsep Compassionate Marketing yang pertama kali saya share bersama
Aa Gym di Bandung beberapa waktu yang lalu. Saya melihat, dengan berkembangnya IT (read: Information Technology)  yang semakin meningkat, informasi semakin banyak, ternyata orang menjadi semakin bingung. Tidak seperti yang dulu diharapkan, kalau informasi semakin banyak, kita semakin pasti. Akibatnya, sekarang orang lebih membutuhkan spiritualitas dari pada dulu.

Dalam pikiran saya ada tiga era perkembangan spiritual. Era pertama ketika orang melakukan polaris, antara spiritual itu sendiri dan bisnis. Saya masih ingat ada salah satu bos yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Dia adalah salah satu bos besar dalam bisnis diIndonesia. Bos ini mengatakan pada saya, “Hermawan, kalau kamu mau berbisnis, jangan berpikir soal agama. Bisnismu itu di kiri, agama itu di kanan. Kalau kamu mau mendalami agama, pelajarilah betul – betul, jadilah kiai, jadilah pendeta, jadilah biarawan.” Inilah yang saya sebut sebagai era pertama ketika orang benar-benar memisahkan antara urusan spiritual dengan urusan bisnis.

Kemudian muncul era kedua, yang dimulai ketika keadaan makin tidak menentu. Ketika lanskap bisnis semakin berubah terus, tidak stabil, orang mulai bingung, orang mulai melakukan yang namanya balancing. Mereka berbisnis dengan cara dunia, mereka tidak segan-segan meminta – minta, berkolusi  ataupun melakukan tindakan-tindakan yang tidak etis. Tidak malu-malu, karena pada umumnya semua pebisnis melakukan hal seperti itu. Bahkan kalau pebisnis tidak melakukan hal seperti itu, mereka dianggap bukan pebisnis. Namun ada sejumlah pebisnis yang menyumbangkan sebagian hasil binisnya
yangdilakukan secara kurang etis tersebut untuk kepentingan spiritual. Jadi semacam Robin Hood. Di era tersebut orang akan berpikir, saya binisnya boleh menyuap, boleh menerima hasil korupsi asal uangnya disumbangkan lagi untuk kegiatan-kegiatan kemanusian, social dan keagamaan. Saya melihatnya era ini sudah berlalu. kita mesti masuk pada era ketiga,  bukan lagi era balancing tetapi masuk pada era integration. menurut pendapat saya sekarang sudah tiba saatnya, bahwa kita harus melakukan 100%
bisnis, 100% spiritual. Jadi tidak perlu lagi ada polarisasi : kalau saya berbisnis, tidak perlu spiritualitas, kalau saya mandalami spiritualitas, tidak boleh lagi berbisnis. Atau dengan cara kedua, balancing, saya berbisnis dengan cara  yang tidak spiritual. Boleh korupsi asal hasilnya saya sumbangkan untuk kegiatan spiritual.

Menurut saya, sekarang the ultimate stage adalah stage ketiga. Kita bisa melakukan 100% bisnis dan spiritual sekaligus. Dan kalau kita persempit dalam dunia marketing, orang akan bertanya-tanya, apa bisa kita menjalankan 100% marketing 100% spiritual?
Keraguan ini muncul karena banyak orang salah mengerti, yang dimaksud dengan marketing hanyalah selling. Dan kebanyakan salesman adalah orang  yang omong besar dan manis. Yang dijanjikan seperti ini, tapi yang diserahkan bukan itu. Hal ini membuat banyak orang salah mengerti. Marketing diidentikkan dengan selling. Sedangkan selling itu diidentikkan dengan cheating. Ini yang keliru!

Kalau kita telusuri lebih mendalam akar-akar marketing yang sebenarnya,  saya menemukan sepuluh hal yang saya pikir sama sekali tidak boleh dipertentangkan, bahkan tidak boleh diseimbangkan, tetapi harus  diintegrasikan dengan nilai-nilai spiritual. Dari telusuran saya bersama tim, ternyata di dalam Kitab Suci Al-Quran dan Hadist banyak sekali ditemukan nilai-nilai spiritual dalam bisnis. Perkenankanlah saya untuk mengutarakan konsep “The 10 Credos of Compassionate Marketing” berikut ini satu per satu, mudah-mudahan ada inspirasi untuk kita semua.

PRINSIP # 1
LOVE YOUR CUSTOMER, RESPECT YOUR COMPETITOR

Cintailah pelanggan Anda, dan hormatlah pada competitor Anda. Tim saya
menemukan ada disuatu hadist: “Allah tidak akan berbelas kasih pada
seseorang bila ia tidak mengasihi sesamanya,” Hadist riwayat Bukhari,
dan Thabrani. Dan tim saya juga menemukan suatu quotation, “Dan janganlah
sekali-sekali kebencianmu terhadap kamu untuk berlaku tidak adil,” Al
Qur’an surat Al Maidah :8.
Aa Gym sudah jelas mengatakan, mengapa harus takut bersaing? Bersaing
itu bagus. Kalau tidak ada lawannya kita selalu menjadi juara, tapi apa
artinya juara? Bagi orang marketing kita harus melihat hal-hal sebagai berikut :

Pertama, competitor akan memperbesar pasar, sebab tanpa competitor industri
tidak akan berkembang. Sebagai contoh, orang yang menjual martabak di
suatu tempat, kalu tidak ada orang yang menjual martabak di sebelah-sebelahnya,
maka pasar permartabakan mungkin tidak akan besar. Jadi your competitor  will increase your market.

Kedua, competitor Anda sebetulnya perlu dibenchmark, mana yang bagus dan mana yang jelek. Yang bagus harus ditiru, namanya benchmarking. Dalam istilah manajemen,mempelajari competitor itu tidak ada yang salah, malah dianjurkan.

Ketiga, kalau Anda tahu competitor Anda melakukan strategi, barangkali
belum tentu Anda harus meniru dia. Ada yang perlu ditiru, tapi justru
ada yang harus dilakukan diferensiasi, yakni dengan menciptakan hal yang  berbeda dengan apa yang telah dimiliki oleh competitor.

PRINSIP # 2
BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO TRANSFORM
Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.  Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi. Globalisasi dan teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar. Kalau kita tidak sensitive dan tidak cepat-cepat mengubah diri, maka kita akan habis. Tim saya menemukan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka akan mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri,” Al Qur’an Surat  Ar – Ra’d : 11.
Dan saya ingat cerita yang indah ketika Nabi Nuh a.s yang dibisiki (read:  mendapat wahyu) Allah SWT bahwa akan ada banjir besar, tapi Nabi adalah orang yang sensitif. Lalu Nabi Nuh membuat kapal. Kita bukan Nabi, tidak mudah mendapat wahyu Allah SWT itu dengan gampang membisiki kita kalau kita tidak sangat dekat dengan Allah SWT. Karena itu kita harus mendekatkan diri pada Allah SWT secara terus menerus guna mengasah sensitifitas terhadap perubahan, sehingga kita lebih siap menghadapi persaingan.

PRINSIP # 3
GUARD YOUR NAME, BE CLEAR AND WHO YOUR ARE

Seperti yang dikatakan A’a gym, Pentingnya menjaga nama baik. Menjadi koruptor termasuk orang yang tidak bisa menjaga nama baik. padahal di dalam marketing diajarkan, “brand name is every thing”. Seringkali orang membeli barang yang brand name bagus, walaupun secara   kualitas, barang tersebut sama dengan yang lain. Guard your name be clear of who your are.
Tim saya melihat, menyelidiki, dan memaparkan kepada saya bahwa sebelum diangkat menjadi rasul, profesi Nabi Muhammad SAW adalah berdagang yang dia lakukan sejak usia 12 tahun. Dalam berdagang Nabi Muhammad SAW dikenal jujur sehingga mendapat julukan Al Amien. Mister Clean, Mister Trusty.

Jadi dengan demikian Nabi Muhammad SAW sudah memberikan contoh, bahwa positioning dan diferensiasinya berbeda disbanding dengan pedagang-pedagang
lain.

PRINSIP # 4
CUSTOMER ARE DIFFERS, GO FIRST TO WHOM REALLY NEED YOU

Sebetulnya ini adalah prinsip segmentation. Anda tidak perlu pergi ke semua
orang yang businessman, tetapi pergilah ke orang yang betul-betul
membutuhkan Anda. Tim saya menemukan ayat : “Hai manusia sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan
kamu  berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya saling kenal mengenal,”
Al-Qur’an Surat Al Hujuraat : 13

Jadi kita berbisnis harus menetukan siapa target pasar kita. Be honest kalau Anda tidak bisa melayani suatu segmen karena Anda tidak mampu,  jangan masuk ke situ. Layanilah orang-orang yang betul-betul menjadi priority  target market Anda.
PRINSIP # 5
ALLWAYS OFFER GOOD PACKAGE AT A FAIR PRICE

Dalam prinsip ini, kita tidak boleh menjual barang jelek dengan harga
yang tinggi, Sekali lagi tim saya menemukan kata-kata yang sangat bagus sekali,
“Tidak dihalalkan bagi seorang muslim menjual barang yang cacat, kecuali ia   memberitahukannya,” Hadist Riwayat Ibnu Majjah dan Ibnu Hambali.  Saya juga membaca sendiri sebuah buku di mana Nabi Muhammad SAW menemukan ada seorang pedagang menjual jagung basah yang ditaruh tersembunyi. Nabi  Muhammad SAW menyuruh pedagang itu menaruh jagung tersebut di luar supaya orang tahu kalau jagung itu basah. Dan karena itu saya pikir, marketing yang benar adalah marketing yang fair,  di mana harga dan produk harus sesuai. Kalau kita menipu orang dengan memberikan produk yang jelek lama-lama akan ketahuan dan akhirnya kita akan ditinggalkan orang. Nabi sudah mengajarkan itu sejak dulu ketika beliau masih menjadi seorang pedagang.

PRINSINP # 6
ALWAYS MAKE YOURSELF AVAILABLE, AND SPREAD THE GOOD NEWS

Pada dasarnya, marketing harus menyebarkan kabar gembira, tapi kabar
gembira yang baik. Tim saya menemukan suatu kata-kata yang bagus,
“Ketika Rasulullah SAW mengutus sahabatnya untuk menyelesaikan suatu urusan, beliau
akan bersabda, sampaikanlah kabar gembira dan janganlah menakut-nakuti,  serta permudahlah urusan jangan mempersulit,” Hadist riwayat Abu Musa ra.

Tim saya juga menambahkan, pada Al Qur’an terdapat ayat: “Dan tiadalah
Kami mengutus kamu melainkan rahmat bagi semesta alam,” Al Qur’an surat Al
Anbiyaa : 107.
Bagi saya, marketing adalah good news. Anda jangan menjual dengan
menodong,  janganlah menjual dengan surat rekomendasi. Kalau Anda melakukan
monopoli, atau mendapatkan proyek dengan surat rekomendasi pejabat, ya mereka akan
membeli tapi karena todongan. Dan yakinlah, hal itu tidak akan bertahan
lama.

PRINSIP # 7
GET YOUR CUSTOMER, KEEP, AND GROW THEM

Sekali Anda mendapatkan pelanggan, peliharalah hubungan yang baik dengan
mereka. Anda harus memastikan bahwa mereka selalu puas dengan layanan
yang  Anda berikan, sehingga mereka menjadi loyal kepada Anda. Ini yang
namanya keep the customer. Keep the customer saja tidak cukup, seterusnya Anda
juga harus grow the customer. Artinya, Anda harus meningkatkan value yang Anda
tawarkan sehingga pelanggan berkembang, maka otomatis value yang Anda  terima dari mereka juga akan berkembang.  Tim saya menemukan kata-kata yang juga sering dikutip oleh Aa Gym :  “Barang  siapa ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia bersilahturahim,” Hadist riwayat Muttafaqun Alaih. Itu yang dinamakan  customer relationship marketing atau apa yang kita sebut CRM.
PRINSIP # 8
WHATEVER YOUR BUSINESS, IT IS A SERVICE BUSINESS

Service business bukan hanya diterapkan pada bisnis hotel. Service business bukan hanya diterapkan pada bisnis retoran, tapi whatever your business Anda harus mempunyai jiwa melayani pelanggan.

Tim saya menemukan lagi: “Karena tangan yang diatas atau yang memberi lebih utama dari tangan yang dibawah, atau yang menerima. Dan mulailah dengan orang yang kau tanggung,” Hadist riwayat Abu Hurairah ra. di dalam marketing, customer satisfaction Anda tidak melakukan marketing.
PRINSIP # 9
ALWAYS REFINE YOUR BUSINESS PROCESS IN TERM OF QUALITY, COST, AND DELIVERY

Tugas sebagai marketer adalah untuk selalu meningkatkan QCD : Quality, Cost, and Delivery. Kasihan pelanggan kalau kita memberikan barang yang rongsokan. Tim saya menemukan: “Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya,” Al Qur’an Surat Al Israa: 34. Saya membaca, didalam Islam, dilarang melakukan tadlis, yaitu penipuan. Dalam bisnis,  penipuan itu banyak macamnya, baik yang menyangkut kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan serta harga.

PRINSIP # 10
GATHER RELEVANT INFORMATION, BUT USE WISDOM IN FINAL DECISION

Prinsip ini mengingkatkan kita untuk terus menerus belajar, belajar, dan belalajar. Karena dunia ini berubah terus, Anda tidak bisa menjadi businessman, atau seorang marketer yang hanya menggunakan pendekatan- pendekatan lama, walaupun pendekatan itu dulunya bagus. Tapi sekarang, pendekatan-pendekatan itu harus terus-menerus diubah atau diperbaharui. Tim saya menemukan bahwa: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman  di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat,”  Al Qur’an surat Al Mujadalah : 11

Menurut tim saya, dalam hadist juga disebutkan bahwa,” Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi muslim”, Hadist riwayat Ibnu Majjah dan Baihaqi. Bahkan   Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina.”  Saya belum berani mengatakan bahwa saya berbisnis dengan jujur itu karena iman, karena saya merasa iman saya belum sekuat Aa gym. Tapi dalam bahasa marketing, saya sering mengatakan begini kepada 140 orang anak buah  saya,  MarkPlus&Co harus benar-benar menjadi konsultan yang mendapatkan proyek tidak boleh menyuap.
Dan saya berani menjamin bahwa dalam mendapatkan klien, MarkPlus&Co
selalu  mendapatkan proyek dengan bersih, termasuk di banyak BUMN.

Setiap saat saya selalu menekankan pentingnya kejujuran. Kalau harus sampai kalah dalam tender, tidak menjadi masalah, karena kita sudah berani bermain secara fair. Tetapi saya belum berani mengatakan bahwa hal itu karena iman, tapi lebih karena apa yang kita sebut sebagai diferensiasi.  Di dalam marketing kita mengatakan bahwa to be different is very important, jadi jangan menjadi me too atau peniru. Sebetulnya ajaran marketing terbesar bukan berarti berjualan dengan menipu. Ajaran marketing terbesar adalah kenalilah competitor Anda, dan jadilah different. Dan jagalah diferensiasi Anda kepada pelanggan sehingga mereka menghargai diferensiasi anda.

Dia membeli dengan jujur. Dia membeli dengan senang.  MarkPlus&Co sudah dikenal barangkali karena sudah 15 tahun berkiprah di   Indonesia. MarkPlus&Co menjadi pioneer marketing sejak 15 tahun yang Lalu,   ketika Pak Harto masih memiliki power. Saat itu tidak ada orang yang  percaya pada marketing, karena berbisnis itu gampang asal dekat dengan kekuasaan.

Tetapi kondisi persaingan telah membuat orang butuh marketing. Karena MarkPlus&Co yang memulai terlebih dahulu, dari positioningnya jelas, tidak boleh menyuap dalam bentuk apapun. Akhirnya semua orang tahu. Jadi orang yang menghubungi kami sudah tahu, walaupun dia kepala proyek dia tidak bakal mendapatkan apa-apa. Kalau dia menginginkan sesuatu dari proyeknya karena kebetulan dia memegang anggaran besar, tak mungkin mereka minta
dari kami.

Saya melihat tren dunia sebetulnya juga ke arah itu. Walupun mungkin terdapat 70% atau bahkan lebih orang yang melakukan bisnis dengan mengikuti arus. Di dalam bisnis internasional, kita harus belajar dari kasus keterpurukan Enron.

Good Corporate Governance (GCG) saat ini sudah menjadi syarat mutlak perusahaan, apalagi perusahaan public. Kalau perusahaan tidak menjalankan GCG dengan bagus, tidak transparan kepada shareholder, main-main di belakang dengan melakukan pembukuan ganda dan sebagainya, maka harga sahamnya akan turun. Dan pada waktu kami beberapa tahun yang lalu diminta membantu sebuah bank syariah untuk merancang strategi marketingnya, ketika bank syariah untuk
pertama kalinya dibuka untuk umum, saya percaya bahwa bank syariah sesudah momen krisis ini saatnya muncul. Hal ini mengingat positioning dari bank syariah sebagai bank yang jujur, bank yang menerima simpanan orang
tetapi diusahakan secara jujur, dan keuntungan bersama.

Karena itu sekarang kita lihat di Indonesia bank syariah itu berkembang dengan pesat. Itu berkaitan dengan kebutuhan setiap orang untuk berhubungan dengan bank-bank yang jujur. Jadi menurut keyakinan saya, sudah saatnya kita melakukan bisnis dengan dilandasi semangat spiritual. Jadi 100% bisnis, 100% spiritual, bukan balancing, bukan juga polaris, tetapi integrasi antara bisnis dan spiritual. Kalau kita betul-betul menjalankan integrasi, menjalankan bisnis kita
dengan cara jujur, secara iman mungkin seperti yang dikatakan Aa Gym, akan mendapatkan rezeki dari Tuhan. Tetapi secara marketing benar, karena kita sedikit dari sekian orang yang melakukan itu. Kita akan menjadi different, menjadi semacam berlian dalam Lumpur.

Terakhir saya ingin menambahkan, bahwa semua topik yang menjadi tema Aa Gym keyword-nya adalah hati. Hati yang bening hati yang bersih, karena hati kelihatannya sudah banyak yang hilang untuk saat ini. Dan itu bukan cuma tren Indonesia atau tren agama-agama tertentu tapi saya kira tren universal. Sehingga salah satu lagu yang menjadi hit di dunia dinyanyikan oleh kelompok Black Eyed Peas, anak-anak muda dengan gaya R&B berjudul “Where is the love.” Dimanakah cinta? Katanya, kebenaran masih tersimpan di bawah karpet, jika kita tidak mengerti tentang kebenaran,
maka kita tidak akan pernah menemukan cinta.

Kebenaran, cinta dan moralitas, bermuara pada hati. Mudah-mudahan kali ini Anda menemukan hati itu kembali. Dan mulai berbisnis dengan hati.

Hermawan Kartajaya adalah seorang pakar, seorang guru, di bidang pemasaran. Hermawan merupakan founder, pendiri perusahaan konsultan marketing Markplus&Co yang sekarang berubah nama menjadi MarkPlus Inc. seiring dengan perkembangan meraksasanya perusahaan tersebut sampai merambah Asia dan Amerika.

Sumber:
The 10 Credos of Compassionate Marketing oleh:
Hermawan Kartajaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s